Tampilkan postingan dengan label Fiqh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiqh. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Desember 2015

PRINSIP MENJAMAK SHALAT KETIKA HUJAN

💧 PRINSIP MENJAMAK SHALAT KETIKA HUJAN

📈Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah

📠 Pertanyaan:
Apa prinsip dalam menjamak shalat ketika tetap hujan?
Mohon berikan arahan kepada kami Samahatusy Syaikh

🔉 Jawaban:
Jama' adalah rukhshah (keringanan) ketika turun hujan, sakit, dan dalam bepergian, demikian juga Allah 'azza wa jalla mencintai rukhsahnya dilakukan. Sehingga apabila turun terhadap kaum muslimin hujan yang menyulitkan mereka untuk menunaikan shalat Isya' pada waktunya atau Ashar bersama Zhuhur, maka tidak mengapa mereka menjamaknya sebagaimana jama' dalam safar. Seorang musafir itu menjamak antara shalat Zhuhur dan Ashar, Maghrib dan Isya',demikian pula kaum muslimin di sebuah negeri dan setiap tempat, apabila turun hujan terhadap mereka dan pasar pun di dalamnya menjadi licin dan banjir, maka boleh mereka menjamak antara shalat Maghrib dan Isya' dengan jama' taqdim (dilakukan di waktu Maghrib) agar tidak berat atas mereka keluar untuk shalat Isya' karena adanya hujan yang masih turun atau kondisi yang licin dan berlumpur di pasar. Adapun menjamak shalat Zhuhur dan Ashar, antara keduanya ada perbedaan pendapat diantara ulama dan yang benar adalah bahwa tidak masalah menjamak antara keduanya ketika adanya alasan yang syar'i, sehingga jika ada alasan (udzur) yang syar'i boleh menjamak shalat
sebagaimana Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjamak shalat dalam bepergian, takut, dan sakit; seluruhnya tidak masalah. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menganjurkan umatnya untuk melakukan perkara sesuai kondisinya dan yang mengandung kebaikan baginya, dengan sabdanya: "Sesungguhnya Allah mencintai engkau melakukan rukhshahnya, sebagaimana Dia tidak menyukai engkau bermaksiat kepadanya.
Berkata Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwasannya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjamak antara Zhuhur dan Ashar dan antara Maghrib dan Isya' bukan karena takut maupun hujan. Dalam riwayat yang lain: bukan karena takut maupun bepergian.Ada yang bertanya Ibnu Abbas? Dia menjawab: Agar tidak memberatkan umatnya, agar umatnya tidak terjatuh pada kesulitan. Maka apabila kondisinya hujan, takut, atau sakit, lalu datang kesulitan tidak masalah mereka menjamak. Dan hadits ini, sekelompok ulama berpendapat: hadits tersebut manshukh (dihapus) hukumnya,namun yang benar adalah bahwa hadits tersebut tidak mansukh, akan tetapi mengandung kemungkinan bolehnya jama' karena udzur syar'i bukan karena takut, hujan, dan bepergian
seperti pengusiran, karena pengusiran juga termasuk udzur syar'i. Apabila pasar kondisinya licin dan lumpur di sekitar masjid meskipun ada sebagian jamaah, maka ini termasuk udzur, karena sebagian jamaah dekat dengan masjid, mereka tidak tertimpa kesulitan, akan tetapi jamaah yang lain tertimpa kesulitan atas mereka berupa lumpur dan halangan banjir, maka ini adalah udzur syar'i, namun apabila mereka meninggalkan jamak antara Zhuhur dan.Ashar agar keluar dari perselisihan dan bersabar atas kesulitan yang ada, maka hal tersebut perkara yang bagus insya Allah. Akan tetapi adanya  kesulitan sebagai alasan yang berkonsekuensi menjamak antara Zhuhur dan Ashar serta Maghrib dan Isya' ketika ada keperluan dan kesulitan.

💻🔍 http://www.binbaz.org.sa/node/16281

📱📡Al-UKHUWWAH

📁 http://bit.ly/Al-Ukhuwwah

🇸🇦

الضابط للجمع عند المطر

ما هو الضابط في جمع الصلوات عند لزوم الأمطار؟ وجهونا بذلك سماحة الشيخ.
الجمع رخصة عند نزول المطر، وعند المرض، وفي السفر كذلك، والله جل وعلا يحب أن تؤتى رخصه، فإذا نزل بالمسلمين مطر يشق عليهم معه أداء الصلاة في وقتها العشاء، أو العصر مع الظهر فلا بأس أن يجمعوا، كما يجمع في السفر، المسافر يجمع بين الظهر والعصر والمغرب والعشاء، وهكذا المسلمون في القرى والأمصار إذا نزلت بهم الأمطار وصارت الأسواق فيها الزلج والسيول فإنهم يجمعوا بين المغرب والعشاء جمع تقديم لئلا يشق عليهم الخروج للعشاء مع وجود المطر المتتابع، أو الزلق في الأسواق والطين في الأسواق والظهر والعصر في الجمع بينهما خلاف بين أهل العلم، والصواب أنه لا حرج في الجمع بينهما عند وجود العذر الشرعي، إذا وجد العذر الشرعي جاز الجمع كما جمع النبي - صلى الله عليه وسلم- في السفر وفي الخوف والمرض كله لا بأس، النبي - صلى الله عليه وسلم- حث الأمة على ما فيه يليق وما فيه الخير لها، قال: (إن الله يحب أن تؤتى رخصه، كما يكره أن تؤتى معصيته)، قال ابن عباس - رضي الله عنهما- أن النبي - صلى الله عليه وسلم- جمع بين الظهر والعصر وبين المغرب والعشاء من غير خوفٍ ولا مطر، وفي رواية: من غير خوف ولا سفر، قيل لابن عباس؟، قال: لئلا يحرج أمته، لئلا تقع أمته في الحرج، فإذا كان هناك مطرٌ أو خوفٌ أو مرض؛ جاء الحرج فلا بأس أن يجمعوا، والحديث هذا: قال جماعة من أهل العلم أنه منسوخ، ولكن الصواب أنه غير منسوخ، لكنه محمول على أنه جمع لعذر شرعي غير الخوف وغير المطر وغير السفر كالدحر، فإن الدحر عذر شرعي أيضاً، إذا كانت الأسواق فيها زلق وطين حول المسجد ولو لبعض الجماعة فإن هذا عذر؛ لأن بعض الجماعة قرب المسجد ما عليهم مشقة، لكن بقية الجماعة عليهم مشقة من الطين ومنازع السيل فهذا عذرٌ شرعي، وإذا تركوا الجمع بين الظهر والعصر خروجاً من الخلاف وصبروا على المشقة فهذا حسن إن شاء الله، لكن مع وجود المشقة الدليل يقتضي الجمع بين الظهر والعصر، وبين والمغرب والعشاء عند الحاجة والمشقة.

Ust Abu Zulfa Anas: ⬆Ada salah ketik

Rabu, 28 Oktober 2015

Ringkasan Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa (Bahagian 8 – Akhir)




Dalil Yang Mengharamkan Gambar Bernyawa 
 
 Aisyah berkata, “Rasulullah datang dari safar, dan aku menutupi sahwah (ruangan kecil) dengan kain tipis yang ada gambar-gambarnya, ketika Rasulullah melihatnya baginda merobeknya dan bersabda, ‘Manusia yang paling pedih azabnya pada hari kiamat adalah orang-orang yang menyerupakan dengan ciptaan Allah’. Aisyah berkata, ‘Maka aku pun menjadikannya wisadah atau wisadatain (satu atau dua bantal)’.” (HR Bukhari) 
 
 Aisyah berkata, “Ketika Nabi pulang dari safar, aku menggantungkan durnuk (permaidani/tabir) yang bergambar, Rasulullah memerintahkan untuk melepaskannya, maka aku pun melepas durnuk tersebut.” (HR Bukhari) 
 
 Asy Syaikh Muqbil menjelaskan, “Bentuk pergabungan para ulama antara dua hadits Aisyah: i) Hadits: Mengoyak kain tabir yang ada gambarnya dan menjadikannya bantal. ii) Hadits: Nabi pernah melihat numruqah (bantal kecil) yang bergambar di dalam kamar, baginda pun enggan untuk masuk ke dalamnya, Aisyah berkata, “Aku bertaubat kepada Allah, apa yang salah pada diriku? Rasulullah menjawab, “Apa ini?” Ia menjawab, “Agar engkau duduk dan bersandar dengannya… (al-Hadits) (Hadits pertama menunjukkan bahawa Nabi memberikan keringanan untuk memanfaatkan tirai yang bergambar setelah dirobek untuk dijadikan bantal. Hadits kedua, seakan-akan Nabi tidak memanfaatkannya sama sekali, -pent.) Al-Hafizh dalam Fathul Bari (juz 10, halaman 390) berkata, “Al-Bukhari mengisyaratkan untuk memadukan antara kedua hadits di atas, kerana tidak mengharuskan bolehnya membuat sesuatu yang dihinakan dari gambar, (dengan) bolehnya duduk di atas gambar. Maka dimungkinkan menggunakan bantal yang tidak ada gambarnya, atau dimungkinkan adanya perbezaan antara duduk dan bersandar, namun ini sangat jauh kemungkinannya, dimungkinkan pula menjamak antara dua hadits tersebut bahawa Aisyah memotong tabir itu pada pertengahan gambar -misalnya- sehingga telah keluar dari bentuk asal, oleh kerana itu dapat dimanfaatkan, yang menguatkan ini adalah hadits pada bab sebelumnya tentang menghapus gambar, dan akan datang pula hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan dalam kitab-kitab As-Sunan yang akan aku sebutkan pada bab setelahnya”.” 
 
Asy-Syaikh Muqbil berkata, “Dalil-dalil ini menunjukkan haramnya keumuman gambar-gambar yang bernyawa, sama saja apakah memiliki bayangan atau tidak, hadits qiram (kain tipis yang digunakan untuk tirai) menunjukkan haramnya gambar tanpa bayangan, begitu pula perintah Rasulullah untuk menghapuskan gambar yang menempel pada dinding Ka’bah, maka dihapus dengan kain perca dan air. Sehingga tidak ada hujjah bagi mereka yang berdalil dengan sabda Rasulullah, “Kecuali raqm (gambar/lukisan) pada pakaian.” Kerana raqm di sini mengandung kemungkinan adalah gambar yang tidak bernyawa, atau gambar bernyawa yang telah terpotong hingga seperti bentuk pohon. Adapun gambar-gambar yang sudah usang, maka lebih baik membersihkan rumah dari gambar-gambar tersebut, kerana akan mencegah masuknya malaikat ke dalam rumah.” 
 
Asy-Syaikh Muqbil berkata, “Dengan ini, diketahui bahawa gambar-gambar bernyawa yang tersebar di surat khabar, majalah, TV, video, dan alat-alat moden lainnya adalah haram, hati-hatilah dengan tipu daya ahlul ahwa’ (pengikut hawa nafsu), telah kita lalui (hadits) bahawa setiap penggambar tempatnya di an-Nar (neraka), kata kullu (setiap) bermakna umum. Dan hadits “Tidaklah ada tamatsil (gambar-gambar) kecuali dihapus. Lafaz umum dalam konteks larangan bermakna larangan semua gambar yang bernyawa, dikecualikan boneka (anak patung) untuk permainan Aisyah berupa kuda yang bersayap, adapun mainan boneka yang dibeli dari plastik, maka tidak boleh.” 
 
📂 (Faedah dari Kitab Hukmu Tashwir Dzawatil Arwah karya Al-Imam al-Muhaddits asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i, terjemahan Pustaka Al-Haura’) 
 
 📚 WhatsApp طريق السلف 📚

Ringkasan Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa (Bahagian 7)



 Ringkasan Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa (Bahagian 7)

Tukang Gambar Termasuk Orang Yang Paling Zalim

 Dari Abu Zur’ah berkata, “Aku bersama Abu Hurairah memasuki sebuah rumah di Madinah, ia melihat bahagian atas rumah ada gambar (lukisan), maka ia berkata, aku mendengar Rasulullah berkata, “Siapakah yang lebih zalim dibandingkan orang-orang yang membuat seperti ciptaanKu, maka silakan mereka menciptakan sebuah biji dan menciptakan seekor semut.” (HR Bukhari)

 Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang membuat gambar-gambar akan diazab pada hari kiamat. Kelak mereka akan diperintah, “Hidupkanlah apa yang kalian ciptakan!” (HR Muslim)

 📂 (Faedah dari Kitab Hukmu Tashwir Dzawatil Arwah karya Al-Imam al-Muhaddits asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i, terjemahan Pustaka Al-Haura’)

📚 WhatsApp طريق السلف 📚

http://thoriqussalaf.com/blog/2015/10/28/ringkasan-hukum-menggambar-makhluk-bernyawa-bahagian-7/

Ringkasan Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa (Bahagian 6)


 Ringkasan Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa (Bahagian 6)

Azab Yang Paling Keras Di Hari Kiamat Adalah Tukang Gambar
 Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya manusia yang paling keras azabnya di sisi Allah pada hari kiamat adalah tukang gambar.” (HR Bukhari)

 Rasulullah bersabda, “Orang yang paling keras azabnya pada hari kiamat adalah orang yang dibunuh oleh seorang Nabi, atau orang yang membunuh Nabi, atau imam yang sesat, dan tukang gambar.” (HR Ahmad, hadits Hasan)

 Al-Imam an-Nawawi (tokoh ulama mazhab syafie, -pent.) berkata (juz 14, halaman 91), “Adapun riwayat “ashaddunnas ‘azaban” (azab yang paling keras), kemungkinan bermakna menggambar untuk disembah, iaini membuat patung atau yang semisalnya, maka ini bentuk kekafiran, baginya azab yang paling pedih. Atau bermakna, sebagaimana dalam hadits, “mudhahatan” (penyerupaan) terhadap ciptaan Allah. Barangsiapa yang meyakininya maka ia telah kafir kepada Allah, ia mendapatkan azab besar sebagaimana orang kafir, azab akan bertambah setingkat dengan kekufurannya. Barang siapa yang tidak meniatkan untuk disembah dan bukan pula untuk mudhahatan, maka ia bermaksiat sebagai pelaku dosa besar, ia tidak dikafirkan sebagaimana pelaku kemaksiatan yang lain.”

 📂 (Faedah dari Kitab Hukmu Tashwir Dzawatil Arwah karya Al-Imam al-Muhaddits asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i, terjemahan Pustaka Al-Haura’)

 📚 WhatsApp طريق السلف 📚

http://thoriqussalaf.com/blog/2015/10/28/ringkasan-hukum-menggambar-makhluk-bernyawa-bahagian-6/

Ringkasan Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa (Bahagian 5)



 Ringkasan Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa (Bahagian 5) 

Semua Tukang Gambar Bernyawa Tempatnya di An-Nar (Neraka) 

 Seseorang mendatangi Ibnu Abbas, lalu ia berkata, “Sesungguhnya aku yang menggambar gambar ini, maka berilah aku fatwa!” Maka Ibnu Abbas berkata, “Mendekatlah kepadaku!” Maka ia pun mendekat, ia berkata lagi, “Mendekatlah kepadaku!” Maka ia pun mendekat sampai Ibnu Abbas meletakkan tangannya di atas kepalanya, kemudian ia berkata, “Mahukah aku sampaikan apa yang aku dengar dari Rasulullah? Aku mendengar Rasulullah bersabda, 

 “Semua tukang gambar tempatnya di An-Nar (neraka), Allah menjadikan nyawa pada setiap gambar yang ia gambarkan, yang bakal mengazabnya di Jahannam.'

” Baginda bersabda pula, “Apabila kalian harus tetap menggambar, maka gambarlah pohon dan benda-benda yang tidak bernyawa.” (HR Muslim) 

 Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang menggambar di dunia, maka pada hari kiamat ia akan diminta untuk meniupkan ruh (nyawa) pada gambar tersebut, dan ia bukan peniup ruh (tidak mungkin menghidupkannya).” (HR Muslim) 

📂 (Faedah dari Kitab Hukmu Tashwir Dzawatil Arwah karya Al-Imam al-Muhaddits asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i, terjemahan Pustaka Al-Haura’)

 📚 WhatsApp طريق السلف 📚 

Ringkasan Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa (Bahagian 4)




 Ringkasan Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa (Bahagian 4) 

Gambar Kerap Kali Menjadi Sesembahan Yang Diibadahi Selain Allah 

 Aisyah berkata, “Ketika Nabi dalam keadaan sakit, salah satu isteri baginda menyebutkan keadaan gereja-gereja yang dilihatnya di negeri Habsyah, iaitu Mariyah. Demikian juga Ummu Salamah dan Ummu Habibah pernah hijrah ke negeri Habsyah, keduanya menceritakan kebagusan negeri Habsyah dan gambar-gambar yang ada di sana, maka Rasulullah mengangkat kepalanya dan berkata, 

“Mereka adalah apabila ada orang shalih meninggal, mereka membangun masjid di atas kuburannya, kemudian mereka membuat gambar di dalamnya, mereka adalah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah”.” (HR Bukhari) 

 📂 (Faedah dari Kitab Hukmu Tashwir Dzawatil Arwah karya Al-Imam al-Muhaddits asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i, terjemahan Pustaka Al-Haura’) 

Ringkasan Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa (Bahagian 3)


 Ringkasan Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa (Bahagian 3)
Rasulullah Melaknat Orang Yang Menggambar
 Abu Juhaifah berkata, “Sesungguhnya Nabi melarang dari hasil menjual darah, hasil menjual anjing, pendapatan dari zina, dan melaknat pemakan riba dan mukilahu (yang memberi makan orang lain dengan riba), al-wasyimah (pembuat tatu), al-mutausyimah (yang ditatu) dan tukang gambar.” (HR Bukhari)
 📂 (Faedah dari Kitab Hukmu Tashwir Dzawatil Arwah karya Al-Imam al-Muhaddits asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i, terjemahan Pustaka Al-Haura’)

📚 WhatsApp طريق السلف 📚

Sumber : http://thoriqussalaf.com/blog/2015/10/28/ringkasan-hukum-menggambar-makhluk-bernyawa-bahagian-3/

Ringkasan Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa (Bahagian 2)


 Ringkasan Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa (Bahagian 2) 
 Larangan Membuat Gambar 

 Dari Jabir, ia berkata, “Rasulullah melarang ada gambar di dalam (Ka’bah/Rumah), dan melarang untuk membuat gambar.” (HR Tirmidzi, dihasankan oleh al-Imam Muqbil) 

 Dari Jabir, ia berkata, “Sesungguhnya Nabi melarang adanya gambar di dalam rumah, dan melarang seseorang menggambar. Nabi memerintahkan Umar bin al-Khattab pada hari-hari penaklukkan Makkah ketika ia di al-Bath-ha’ untuk mendatangi Ka’bah dan menghapuskan semua gambar yang ada di Ka’bah, Rasulullah tidak memasuki Ka’bah sampai semua gambar telah dihapus.” (HR Ahmad) 

✅  Al-Imam Muqbil menjelaskan, “Kalian dapati pada dalil-dalil ini tentang keumuman pengharaman gambar, sama saja apakah berupa patung atau tidak, dengan sabda baginda, “Dihapus setiap gambar”. Kerana menghapus itu tidak boleh (dilakukan) pada patung, melainkan dengan cara dihancurkan.” 
 Dari Jabir, ia berkata, “Dahulu di dalam Ka’bah terdapat gambar-gambar, Nabi memerintahkan Umar bin al-Khattab untuk menghapuskannya, lalu ia membasahi pakaian dan menghapuskan dengannya (*), kemudian Rasulullah masuk ke dalam Ka’bah ketika tidak ada gambar satu pon.” (HR Ahmad) * Pada lafaz “lalu ia membasahi pakaian dan menghapusnya”, terdapat dalil haramnya semua gambar bernyawa, berbentuk fotografi atau selainnya. 

 📂 (Faedah dari Kitab Hukmu Tashwir Dzawatil Arwah karya Al-Imam al-Muhaddits asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i, terjemahan Pustaka Al-Haura’)

 📚 WhatsApp طريق السلف 📚 

Ringkasan Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa (Bahagian 1)

 Ringkasan Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa (Bahagian 1) 

Perintah Menghapus Gambar 
 Dari Ali bin Abi Thalib, Rasulullah bersabda, “Jangan kalian membiarkan gambar/patung kecuali kalian hapuskan dan kuburan yang dimuliakan kecuali kalian meratakannya.” (HR Muslim) 
 Rasulullah bersabda, “Dan tidak ada gambar kecuali kalian menghapuskannya.” (HR Muslim) 
 Abdullah bin Abbas berkata, “Sesungguhnya Nabi tidak memasuki Ka’bah ketika baginda melihat gambar di dalamnya sampai beliau memerintahkan untuk dihapuskan. Baginda melihat gambar Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il sedang memegang azlam (undian), maka baginda bersabda, ‘Semoga Allah membunuh mereka! Demi Allah, sesungguhnya keduanya tidak pernah mengundi’.” (HR Bukhari) 
 📂 (Faedah dari Kitab Hukmu Tashwir Dzawatil Arwah karya Al-Imam al-Muhaddits asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i, terjemahan Pustaka Al-Haura’) 

 📚 WhatsApp طريق السلف 📚 

Sumber : http://thoriqussalaf.com/blog/2015/10/28/ringkasan-hukum-menggambar-makhluk-bernyawa-bahagian-1/

Doa Ketika Hendak Menyembelih Haiwan Korban



🌾🔪 Doa Ketika Hendak Menyembelih Haiwan Korban 
🌴 Dalam fatwa yang dikeluarkan Lajnah Daimah, dikatakan sunnah ketika hendak menyembelih haiwan korban adalah membaca doa: 
 (بسم الله والله أكبر، اللهم هذا منك ولك) 

atau boleh pula engkau tambahkan kalau penyembelihananya diwakilkan orang lain: 
 (اللهم تقبل من فلان) 
atau bila dilakukan sendiri: 
 (تقبلها مني) 
🌴 Syaikh al-Uthaimin ketika ditanya apakah disyaratkan untuk menyebut bahawa dari si fulan, maka beliau menjawab:
 إن ذكر أنها عن فلان فهو أفضل لأن النبي عليه الصلاة والسلام قال (هذا منك ولك عن محمد وآل محمد) Bila disebut bahawa korban ini dari si fulan maka itu afdhol kerana Nabi bersabda:
 (هذا منك ولك عن محمد وآل محمد) Kalau tak disebut pun tidak mengapa niatnya telah mencukupinya. Adapun doanya ketika menyembelih: (بسم الله الله أكبر اللهم هذا منك ولك عن محمد)ٍ أو (عن فلان وفلان) 
Dengan menyebutkan namanya. Semoga Allah terima amalan korban kita, wa barokallohufiikum.

 📂 (Faedah dari al-Ustadz Abdush Shomad Bawazer) 
📚 WhatsApp طريق السلف 📚 

Berpisah Dengan Ramadhan



🌹🌸 Berpisah Dengan Ramadhan
 قال إبن رجب رحمه الله تعالى : ( كيف لا تجري للمؤمن على فراق رمضان دموعُ ، وهو لا يدري هل بقي له في عمره إليهِ رجوعُ ) لطائف المعارف ٢١٧/١

💧💧Imam Ibnu Rojab berkata, “Bagaimana seorang mukmin tidak berlinang air matanya masa berpisah dengan Romadhon sementara dia tidaklah tahu apa sisa umurnya bisa mengembalikan dia ke Romadhon berikutnya.”

📂 Faedah dari al-Ustadz Usamah Mahri
📚 WhatsApp طريق السلف 📚

Selasa, 27 Oktober 2015

Seputar Pembahasan Tamyiz

📚📖 Rubrik: Fiqh

"Seputar Pembahasan Tamyiz"

1. Definisi tamyiz secara istilah:

" هو قوة في الدماغ بها تستنبط المعاني "
انظر المفردات للراغب الأصفهاني( ميز) ص ٤٩٥.

"Kekuatan daya pikir yang dengannya anak mampu menemukan dan menetapkan beberapa makna(perkataan)" (lihat Al-Mufradat karya Ar-Raghib Al-Ashfahani halaman 495).

2.Tanda Tamyiz.

Para ulama telah memberikan pendapat yang beragam tentang tanda-tanda tamyiz.

Sebagian mereka ada yang berpendapat:

" المميز هو الذي يفهم الخطاب،ورد الجواب"
انظر تحرير التنبيه للنووي- كتاب الحج ص ١٥٣.

"Mumayyiz (seseorang yang telah tamyiz) adalah  anak mampu  memahami suatu pembicaraan dan mampu menjawab (pertanyaan) dari lawan bicaranya.

3. Apakah tamyiz dibatasi pada usia tertentu atau ditandai jika telah mencapai usia tertentu?

Telah terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama pada pembahasan ini.

Wallahu a'lam, pendapat yang terpilih adalah bahwa tamyiz tidak dibatasi pada usia tertentu. Pendapat ini dikuatkan oleh Al-Imam An-Nawawi dan sebagian ulama dari kalangan Hanafiyah, Malikiyah dan Hanabilah.

Berkata Al-Imam An-Nawawi:

" ولا ينضبط التمييزبسن بل يختلف باختلاف الأفهام"
انظر تحرير التنبيه للنووي - كتاب الجيم ،ص ١٥٣.

"Dan tamyiz itu tidaklah dibatasi pada usia tertentu akan tetapi usia tamyiz berbeda-beda sesuai dengan perkembangan pemahaman seorang anak" (lihat Tahrir At-Tanbih karya An-Nawawi halaman 153).

 Kontributor: Al-Ustadz Abu Abdillah Syukri Sangata

Artikel diatas telah dikoreksi oleh Asatidzah di group SLN 1.
(80 Asatidzah Indonesia telah tergabung di SLN 1)

🌍 WA Salafy Lintas Negara ✈