Ringkasan Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa (Bahagian 1)
Perintah Menghapus Gambar
Dari Ali bin Abi Thalib, Rasulullah bersabda, “Jangan kalian membiarkan gambar/patung kecuali kalian hapuskan dan kuburan yang dimuliakan kecuali kalian meratakannya.” (HR Muslim)
Rasulullah bersabda, “Dan tidak ada gambar kecuali kalian menghapuskannya.” (HR Muslim)
Abdullah bin Abbas berkata, “Sesungguhnya Nabi tidak memasuki Ka’bah ketika baginda melihat gambar di dalamnya sampai beliau memerintahkan untuk dihapuskan. Baginda melihat gambar Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il sedang memegang azlam (undian), maka baginda bersabda, ‘Semoga Allah membunuh mereka! Demi Allah, sesungguhnya keduanya tidak pernah mengundi’.” (HR Bukhari)
📂 (Faedah dari Kitab Hukmu Tashwir Dzawatil Arwah karya Al-Imam al-Muhaddits asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i, terjemahan Pustaka Al-Haura’)
📚 WhatsApp طريق السلف 📚
Sumber : http://thoriqussalaf.com/blog/2015/10/28/ringkasan-hukum-menggambar-makhluk-bernyawa-bahagian-1/
Tampilkan postingan dengan label Ringkasan Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ringkasan Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa. Tampilkan semua postingan
Rabu, 28 Oktober 2015
Ringkasan Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa (Bahagian 8 – Akhir)
Dalil Yang Mengharamkan Gambar Bernyawa
Aisyah berkata, “Rasulullah datang dari safar, dan aku menutupi sahwah (ruangan kecil) dengan kain tipis yang ada gambar-gambarnya, ketika Rasulullah melihatnya baginda merobeknya dan bersabda, ‘Manusia yang paling pedih azabnya pada hari kiamat adalah orang-orang yang menyerupakan dengan ciptaan Allah’. Aisyah berkata, ‘Maka aku pun menjadikannya wisadah atau wisadatain (satu atau dua bantal)’.” (HR Bukhari)
Aisyah berkata, “Ketika Nabi pulang dari safar, aku menggantungkan durnuk (permaidani/tabir) yang bergambar, Rasulullah memerintahkan untuk melepaskannya, maka aku pun melepas durnuk tersebut.” (HR Bukhari)
Asy Syaikh Muqbil menjelaskan, “Bentuk pergabungan para ulama antara dua hadits Aisyah: i) Hadits: Mengoyak kain tabir yang ada gambarnya dan menjadikannya bantal. ii) Hadits: Nabi pernah melihat numruqah (bantal kecil) yang bergambar di dalam kamar, baginda pun enggan untuk masuk ke dalamnya, Aisyah berkata, “Aku bertaubat kepada Allah, apa yang salah pada diriku? Rasulullah menjawab, “Apa ini?” Ia menjawab, “Agar engkau duduk dan bersandar dengannya… (al-Hadits) (Hadits pertama menunjukkan bahawa Nabi memberikan keringanan untuk memanfaatkan tirai yang bergambar setelah dirobek untuk dijadikan bantal. Hadits kedua, seakan-akan Nabi tidak memanfaatkannya sama sekali, -pent.) Al-Hafizh dalam Fathul Bari (juz 10, halaman 390) berkata, “Al-Bukhari mengisyaratkan untuk memadukan antara kedua hadits di atas, kerana tidak mengharuskan bolehnya membuat sesuatu yang dihinakan dari gambar, (dengan) bolehnya duduk di atas gambar. Maka dimungkinkan menggunakan bantal yang tidak ada gambarnya, atau dimungkinkan adanya perbezaan antara duduk dan bersandar, namun ini sangat jauh kemungkinannya, dimungkinkan pula menjamak antara dua hadits tersebut bahawa Aisyah memotong tabir itu pada pertengahan gambar -misalnya- sehingga telah keluar dari bentuk asal, oleh kerana itu dapat dimanfaatkan, yang menguatkan ini adalah hadits pada bab sebelumnya tentang menghapus gambar, dan akan datang pula hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan dalam kitab-kitab As-Sunan yang akan aku sebutkan pada bab setelahnya”.”
Asy-Syaikh Muqbil berkata, “Dalil-dalil ini menunjukkan haramnya keumuman gambar-gambar yang bernyawa, sama saja apakah memiliki bayangan atau tidak, hadits qiram (kain tipis yang digunakan untuk tirai) menunjukkan haramnya gambar tanpa bayangan, begitu pula perintah Rasulullah untuk menghapuskan gambar yang menempel pada dinding Ka’bah, maka dihapus dengan kain perca dan air. Sehingga tidak ada hujjah bagi mereka yang berdalil dengan sabda Rasulullah, “Kecuali raqm (gambar/lukisan) pada pakaian.” Kerana raqm di sini mengandung kemungkinan adalah gambar yang tidak bernyawa, atau gambar bernyawa yang telah terpotong hingga seperti bentuk pohon. Adapun gambar-gambar yang sudah usang, maka lebih baik membersihkan rumah dari gambar-gambar tersebut, kerana akan mencegah masuknya malaikat ke dalam rumah.”
Asy-Syaikh Muqbil berkata, “Dengan ini, diketahui bahawa gambar-gambar bernyawa yang tersebar di surat khabar, majalah, TV, video, dan alat-alat moden lainnya adalah haram, hati-hatilah dengan tipu daya ahlul ahwa’ (pengikut hawa nafsu), telah kita lalui (hadits) bahawa setiap penggambar tempatnya di an-Nar (neraka), kata kullu (setiap) bermakna umum. Dan hadits “Tidaklah ada tamatsil (gambar-gambar) kecuali dihapus. Lafaz umum dalam konteks larangan bermakna larangan semua gambar yang bernyawa, dikecualikan boneka (anak patung) untuk permainan Aisyah berupa kuda yang bersayap, adapun mainan boneka yang dibeli dari plastik, maka tidak boleh.”
📂 (Faedah dari Kitab Hukmu Tashwir Dzawatil Arwah karya Al-Imam al-Muhaddits asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i, terjemahan Pustaka Al-Haura’)
📚 WhatsApp طريق السلف 📚
Ringkasan Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa (Bahagian 7)
Ringkasan Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa (Bahagian 7)
Tukang Gambar Termasuk Orang Yang Paling Zalim
Dari Abu Zur’ah berkata, “Aku bersama Abu Hurairah memasuki sebuah rumah di Madinah, ia melihat bahagian atas rumah ada gambar (lukisan), maka ia berkata, aku mendengar Rasulullah berkata, “Siapakah yang lebih zalim dibandingkan orang-orang yang membuat seperti ciptaanKu, maka silakan mereka menciptakan sebuah biji dan menciptakan seekor semut.” (HR Bukhari)
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang membuat gambar-gambar akan diazab pada hari kiamat. Kelak mereka akan diperintah, “Hidupkanlah apa yang kalian ciptakan!” (HR Muslim)
📂 (Faedah dari Kitab Hukmu Tashwir Dzawatil Arwah karya Al-Imam al-Muhaddits asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i, terjemahan Pustaka Al-Haura’)
📚 WhatsApp طريق السلف 📚
http://thoriqussalaf.com/blog/2015/10/28/ringkasan-hukum-menggambar-makhluk-bernyawa-bahagian-7/
Ringkasan Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa (Bahagian 6)
Ringkasan Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa (Bahagian 6)
Azab Yang Paling Keras Di Hari Kiamat Adalah Tukang Gambar
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya manusia yang paling keras azabnya di sisi Allah pada hari kiamat adalah tukang gambar.” (HR Bukhari)
Rasulullah bersabda, “Orang yang paling keras azabnya pada hari kiamat adalah orang yang dibunuh oleh seorang Nabi, atau orang yang membunuh Nabi, atau imam yang sesat, dan tukang gambar.” (HR Ahmad, hadits Hasan)
Al-Imam an-Nawawi (tokoh ulama mazhab syafie, -pent.) berkata (juz 14, halaman 91), “Adapun riwayat “ashaddunnas ‘azaban” (azab yang paling keras), kemungkinan bermakna menggambar untuk disembah, iaini membuat patung atau yang semisalnya, maka ini bentuk kekafiran, baginya azab yang paling pedih. Atau bermakna, sebagaimana dalam hadits, “mudhahatan” (penyerupaan) terhadap ciptaan Allah. Barangsiapa yang meyakininya maka ia telah kafir kepada Allah, ia mendapatkan azab besar sebagaimana orang kafir, azab akan bertambah setingkat dengan kekufurannya. Barang siapa yang tidak meniatkan untuk disembah dan bukan pula untuk mudhahatan, maka ia bermaksiat sebagai pelaku dosa besar, ia tidak dikafirkan sebagaimana pelaku kemaksiatan yang lain.”
📂 (Faedah dari Kitab Hukmu Tashwir Dzawatil Arwah karya Al-Imam al-Muhaddits asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i, terjemahan Pustaka Al-Haura’)
📚 WhatsApp طريق السلف 📚
http://thoriqussalaf.com/blog/2015/10/28/ringkasan-hukum-menggambar-makhluk-bernyawa-bahagian-6/
Ringkasan Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa (Bahagian 5)
Ringkasan Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa (Bahagian 5)
Semua Tukang Gambar Bernyawa Tempatnya di An-Nar (Neraka)
Seseorang mendatangi Ibnu Abbas, lalu ia berkata, “Sesungguhnya aku yang menggambar gambar ini, maka berilah aku fatwa!” Maka Ibnu Abbas berkata, “Mendekatlah kepadaku!” Maka ia pun mendekat, ia berkata lagi, “Mendekatlah kepadaku!” Maka ia pun mendekat sampai Ibnu Abbas meletakkan tangannya di atas kepalanya, kemudian ia berkata, “Mahukah aku sampaikan apa yang aku dengar dari Rasulullah? Aku mendengar Rasulullah bersabda,
“Semua tukang gambar tempatnya di An-Nar (neraka), Allah menjadikan nyawa pada setiap gambar yang ia gambarkan, yang bakal mengazabnya di Jahannam.'
”
Baginda bersabda pula, “Apabila kalian harus tetap menggambar, maka gambarlah pohon dan benda-benda yang tidak bernyawa.” (HR Muslim)
Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang menggambar di dunia, maka pada hari kiamat ia akan diminta untuk meniupkan ruh (nyawa) pada gambar tersebut, dan ia bukan peniup ruh (tidak mungkin menghidupkannya).” (HR Muslim)
📂 (Faedah dari Kitab Hukmu Tashwir Dzawatil Arwah karya Al-Imam al-Muhaddits asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i, terjemahan Pustaka Al-Haura’)
📚 WhatsApp طريق السلف 📚
Ringkasan Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa (Bahagian 4)
Ringkasan Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa (Bahagian 4)
Gambar Kerap Kali Menjadi Sesembahan Yang Diibadahi Selain Allah
Aisyah berkata, “Ketika Nabi dalam keadaan sakit, salah satu isteri baginda menyebutkan keadaan gereja-gereja yang dilihatnya di negeri Habsyah, iaitu Mariyah. Demikian juga Ummu Salamah dan Ummu Habibah pernah hijrah ke negeri Habsyah, keduanya menceritakan kebagusan negeri Habsyah dan gambar-gambar yang ada di sana, maka Rasulullah mengangkat kepalanya dan berkata,
“Mereka adalah apabila ada orang shalih meninggal, mereka membangun masjid di atas kuburannya, kemudian mereka membuat gambar di dalamnya, mereka adalah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah”.” (HR Bukhari)
📂 (Faedah dari Kitab Hukmu Tashwir Dzawatil Arwah karya Al-Imam al-Muhaddits asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i, terjemahan Pustaka Al-Haura’)
📚 WhatsApp طريق السلف 📚
http://thoriqussalaf.com/blog/2015/10/28/ringkasan-hukum-menggambar-makhluk-bernyawa-bahagian-4/
http://thoriqussalaf.com/blog/2015/10/28/ringkasan-hukum-menggambar-makhluk-bernyawa-bahagian-4/
Ringkasan Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa (Bahagian 3)
Ringkasan Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa (Bahagian 3)
Rasulullah Melaknat Orang Yang Menggambar
Abu Juhaifah berkata, “Sesungguhnya Nabi melarang dari hasil menjual darah, hasil menjual anjing, pendapatan dari zina, dan melaknat pemakan riba dan mukilahu (yang memberi makan orang lain dengan riba), al-wasyimah (pembuat tatu), al-mutausyimah (yang ditatu) dan tukang gambar.” (HR Bukhari)
📂 (Faedah dari Kitab Hukmu Tashwir Dzawatil Arwah karya Al-Imam al-Muhaddits asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i, terjemahan Pustaka Al-Haura’)
📚 WhatsApp طريق السلف 📚
Sumber : http://thoriqussalaf.com/blog/2015/10/28/ringkasan-hukum-menggambar-makhluk-bernyawa-bahagian-3/
Ringkasan Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa (Bahagian 2)
Ringkasan Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa (Bahagian 2)
Larangan Membuat Gambar
Dari Jabir, ia berkata, “Rasulullah melarang ada gambar di dalam (Ka’bah/Rumah), dan melarang untuk membuat gambar.” (HR Tirmidzi, dihasankan oleh al-Imam Muqbil)
Dari Jabir, ia berkata, “Sesungguhnya Nabi melarang adanya gambar di dalam rumah, dan melarang seseorang menggambar. Nabi memerintahkan Umar bin al-Khattab pada hari-hari penaklukkan Makkah ketika ia di al-Bath-ha’ untuk mendatangi Ka’bah dan menghapuskan semua gambar yang ada di Ka’bah, Rasulullah tidak memasuki Ka’bah sampai semua gambar telah dihapus.” (HR Ahmad)
✅ Al-Imam Muqbil menjelaskan, “Kalian dapati pada dalil-dalil ini tentang keumuman pengharaman gambar, sama saja apakah berupa patung atau tidak, dengan sabda baginda, “Dihapus setiap gambar”. Kerana menghapus itu tidak boleh (dilakukan) pada patung, melainkan dengan cara dihancurkan.”
Dari Jabir, ia berkata, “Dahulu di dalam Ka’bah terdapat gambar-gambar, Nabi memerintahkan Umar bin al-Khattab untuk menghapuskannya, lalu ia membasahi pakaian dan menghapuskan dengannya (*), kemudian Rasulullah masuk ke dalam Ka’bah ketika tidak ada gambar satu pon.” (HR Ahmad)
* Pada lafaz “lalu ia membasahi pakaian dan menghapusnya”, terdapat dalil haramnya semua gambar bernyawa, berbentuk fotografi atau selainnya.
📂 (Faedah dari Kitab Hukmu Tashwir Dzawatil Arwah karya Al-Imam al-Muhaddits asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i, terjemahan Pustaka Al-Haura’)
📚 WhatsApp طريق السلف 📚
Langganan:
Postingan (Atom)